Inflation for Dummies

Kasus 1:
A menabung 1 juta rupiah ke Bank X. Bank X meminjamkan 1 juta rupiah tersebut kepada B. Artinya, uang A sudah berpindah tangan ke B. Bank X tidak memegang uang A lagi. Tapi mengapa A masih bisa mengambil uang tabungannya dari Bank X? Uang siapa itu?

Kasus 2:
Seribu nasabah Bank X, masing-masing menabung 1 juta rupiah. Terkumpullah dana 1 milyar di Bank X. Dana tersebut dipinjamkan ke Perusahaan Y yang sedang membangun proyek jangka panjang, katakanlah 10 tahun.

Karena berhembus isu tak sedap (misalnya dari surat pembaca, yang mengatakan bahwa layanan bank tersebut sangat buruk, teller-nya jelek-jelek, satpamnya bau, dll.), keseribu nasabah bank X serentak menarik tabungan mereka. Terjadilah rush.

Bank X tidak memiliki cadangan uang (likuiditas) untuk memberikan hak keseribu nasabahnya (uang senilai 1 milyar dari keseribu nasabah tersebut sedang dipinjam oleh Perusahaan Y, dan akan dikembalikan secara bertahap dalam jangka waktu 10 tahun). Karenanya Bank X kolaps. Pemerintah turun tangan dengan memberikan bantuan likuiditas kepada Bank X untuk menyelamatkan nasabahnya.

Untuk mencukupi kebutuhan likuiditas Bank X, negara kembali mencetak uang. Terjadilah inflasi karena uang yang beredar lebih banyak daripada kebutuhan.

Kesimpulan:
Kedua kasus di atas adalah contoh sederhana bagaimana rentannya sistem perbankan apapun di manapun (termasuk bank yang menamakan dirinya syariah). Bank sangat mudah digoyang, bahkan oleh rumor sekalipun.

Khusus untuk bank syariah, seharusnya benar-benar menerapkan asas “keadilan” dan “kejujuran”. Saat seorang nasabah menyimpan uangnya di bank syariah, seharusnya terjadi ijab kabul (akad) bahwa bila uangnya dipinjamkan kepada debitur, maka dia harus menunggu sampai debitur tersebut melunasi utangnya, barulah uang tersebut bisa dia ambil kembali.

Itulah salah satu akad/praktik yang harus dilakukan oleh bank-bank syariah, agar mereka betul-betul berbeda dengan bank konvensional. Selama ini, katanya, bank-bank syariah hanya mengganti nama (menerjemahkan istilah) untuk praktik-praktik yang sama pada bank-bank konvensional.

Silakan tulis tanggapan Anda di sini. Kolom dengan tanda * wajib diisi

*
*