<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>ke:la:kar</title>
	<atom:link href="http://kelakar.web.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kelakar.web.id</link>
	<description>tempat berbagi senda gurau dan keluh kesah...</description>
	<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 21:35:35 +0000</pubDate>
	
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Inflation for Dummies</title>
		<link>http://kelakar.web.id/2009/10/27/inflation-for-dummies/</link>
		<comments>http://kelakar.web.id/2009/10/27/inflation-for-dummies/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 13:42:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelakar.web.id/?p=360</guid>
		<description><![CDATA[Kasus 1:
A menabung 1 juta rupiah ke Bank X. Bank X meminjamkan 1 juta rupiah tersebut kepada B. Artinya, uang A sudah berpindah tangan ke B. Bank X tidak memegang uang A lagi. Tapi mengapa A masih bisa mengambil uang tabungannya dari Bank X? Uang siapa itu?
Kasus 2:
Seribu nasabah Bank X, masing-masing menabung 1 juta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kasus 1:</strong><br />
A menabung 1 juta rupiah ke Bank X. Bank X meminjamkan 1 juta rupiah tersebut kepada B. Artinya, uang A sudah berpindah tangan ke B. Bank X tidak memegang uang A lagi. Tapi mengapa A masih bisa mengambil uang tabungannya dari Bank X? Uang siapa itu?</p>
<p><strong>Kasus 2:</strong><br />
Seribu nasabah Bank X, masing-masing menabung 1 juta rupiah. Terkumpullah dana 1 milyar di Bank X. Dana tersebut dipinjamkan ke Perusahaan Y yang sedang membangun proyek jangka panjang, katakanlah 10 tahun.</p>
<p>Karena berhembus isu tak sedap (misalnya dari surat pembaca, yang mengatakan bahwa layanan bank tersebut sangat buruk, teller-nya jelek-jelek, satpamnya bau, dll.), keseribu nasabah bank X serentak menarik tabungan mereka. Terjadilah rush.</p>
<p>Bank X tidak memiliki cadangan uang (likuiditas) untuk memberikan hak keseribu nasabahnya (uang senilai 1 milyar dari keseribu nasabah tersebut sedang dipinjam oleh Perusahaan Y, dan akan dikembalikan secara bertahap dalam jangka waktu 10 tahun). Karenanya Bank X kolaps. Pemerintah turun tangan dengan memberikan bantuan likuiditas kepada Bank X untuk menyelamatkan nasabahnya.</p>
<p>Untuk mencukupi kebutuhan likuiditas Bank X, negara kembali mencetak uang. Terjadilah inflasi karena uang yang beredar lebih banyak daripada kebutuhan.</p>
<p><strong>Kesimpulan:<br />
</strong>Kedua kasus di atas adalah contoh sederhana bagaimana rentannya sistem perbankan apapun di manapun (termasuk bank yang menamakan dirinya syariah). Bank sangat mudah digoyang, bahkan oleh rumor sekalipun.</p>
<p>Khusus untuk bank syariah, seharusnya benar-benar menerapkan asas &#8220;keadilan&#8221; dan &#8220;kejujuran&#8221;. Saat seorang nasabah menyimpan uangnya di bank syariah, seharusnya terjadi ijab kabul (akad) bahwa bila uangnya dipinjamkan kepada debitur, maka dia harus menunggu sampai debitur tersebut melunasi utangnya, barulah uang tersebut bisa dia ambil kembali.</p>
<p>Itulah salah satu akad/praktik yang harus dilakukan oleh bank-bank syariah, agar mereka betul-betul berbeda dengan bank konvensional. Selama ini, <em>katanya</em>, bank-bank syariah hanya mengganti nama (menerjemahkan istilah) untuk praktik-praktik yang sama pada bank-bank konvensional.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelakar.web.id/2009/10/27/inflation-for-dummies/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nilai Emas Tak Pernah Naik</title>
		<link>http://kelakar.web.id/2009/10/26/nilai-emas-tak-pernah-naik/</link>
		<comments>http://kelakar.web.id/2009/10/26/nilai-emas-tak-pernah-naik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 01:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelakar.web.id/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Jika ada yang mengajak Anda untuk berinvestasi emas, tolaklah dengan tegas! Sebab emas tidak bisa dijadikan ladang investasi. Anda tidak mungkin bisa menernak atau berkebun emas. Emas yang Anda beli 10 gram hari ini, tetap akan menjadi 10 gram 10 tahun yang akan datang. Emas tidak bisa beranak atau berkembang.
Lain halnya jika ada yang mengajak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika ada yang mengajak Anda untuk berinvestasi emas, tolaklah dengan tegas! Sebab emas tidak bisa dijadikan ladang investasi. Anda tidak mungkin bisa menernak atau berkebun emas. Emas yang Anda beli 10 gram hari ini, tetap akan menjadi 10 gram 10 tahun yang akan datang. Emas tidak bisa beranak atau berkembang.</p>
<p>Lain halnya jika ada yang mengajak Anda berinvestasi di bidang peternakan ayam, bolehlah untuk dipertimbangkan. Seandainya Anda membeli 10 ekor ayam betina hari ini (ayam jantannya pinjem punya tetangga), dan Anda pelihara dengan baik, 10 tahun ke depan jumlah ayam Anda bisa menjadi 10 ribu ekor (kecuali jika peternakan ayam Anda disatroni rampok, diterjang tsunami, atau terpapar virus H5N1! &#8211;meski laku, virus ini jangan dijual ke luar negeri ya?).</p>
<p>Nilai emas juga tidak pernah naik! Jika Anda membeli 10 gram emas tahun ini seharga 3 juta rupiah, dan tahun depan harganya melonjak menjadi 6 juta rupiah, itu bukan berarti nilai emas naik, tetapi nilai rupiahlah yang turun.</p>
<p>Sejak zaman baheula, emas telah dijadikan alat tukar (dinar Islam mengadopsi dinar Romawi). Sebagai alat tukar, emas tidak boleh dijadikan komoditi. Artinya, emas tidak boleh dikembangkan atau dibungakan. Mengembangkan emas sama saja dengan membungakan tabungan Anda di bank*. Bunga bank adalah faktor pemicu inflasi yang &#8211;selain hukumnya haram dalam ajaran Islam dan Yahudi&#8211; ujung-ujungnya merugikan Anda sendiri, mayarakat, negara, dan manusia seluruhnya**.</p>
<p>Karena harganya yang stabil, emas merupakan aset likuid yang paling aman untuk menjaga nilai tabungan Anda. Menabung rupiah, dollar, euro, atau yen mengandung risiko kehilangan nilai akibat inflasi. Uang 10 juta rupiah yang Anda depositkan di bank hari ini, jumlahnya akan bertambah menjadi 10 juta 800 ribu rupiah tahun depan. Penambahan yang sangat kecil (800 ribu pertahun) dibandingkan inflasi sesungguhnya yang akan Anda rasakan tahun depan.</p>
<p>Sebagai perbandingan, tahun lalu saya membeli satu porsi nasi padang dengan lauk alakadarnya seharga 7.000 rupiah. Sekarang, di warung yang sama, saya membeli nasi dengan komposisi yang sama pula seharga 10.000 rupiah, atau terjadi kenaikan 3.000 rupiah pertahun atau setara dengan 42,85%! Saya masih ingat, tahun lalu harga susu bantal 200 ml rasa strawberry saya beli dengan harga 1.600 rupiah. Sekarang di toko yang sama harganya menjadi 2.100 rupiah, atau terjadi kenaikan sebesar 31,25%.</p>
<p>Jika melihat kenaikan harga kebutuhan pokok (nasi padang dan susu bantal) di atas, maka 10 juta yang diendapkan di bank selama setahun, paling tidak harus bertambah menjadi 14 juta. Dan ini tidak mungkin, sebab tidak ada bank yang memberikan bunga deposito 40%.</p>
<p>Kesimpulannya, jangan pernah menabung aset likuid Anda dalam mata uang, tapi alihkan dengan emas. Peganglah rupiah secukupnya (untuk biaya hidup satu bulan &#8212; dari gajian ke gajian kalau Anda karyawan). Saat membutuhkan currency (mata uang yang berlaku), jangan jual emas Anda, tapi cukup gadaikan di bank yang menerima gadai emas atau pegadaian.</p>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
* Emas adalah barang tambang. Jika dalam sebuah sistem perekonomian dibutuhkan emas tambahan, mau tidak mau, negara harus menambang/mencari tambang emas baru (dan itu susah dilakukan). Tapi, jika yang dibutuhkan adalah uang kertas, negara tidak perlu pergi ke pertambangan (karena pertambangannya sudah dikuasai asing, hehehe), tapi cukup ke percetakan (dan itu sangat mudah dilakukan).</p>
<p>** Dahulu, pada saat emas masih menjadi mata uang yang berlaku (currency), riba hanya mencekik satu orang. A berutang 10 gram emas kepada B. Atas utangnya tersebut, A harus membayar 20 gram emas, maka A akan bekerja rodi untuk B (senilai 10 gram emas yang menjadi bunga/riba). Orang lain yang tidak tersangkut utang piutang, tidak terkena dampaknya. Tapi sekarang, bunga/riba itu akan dibebankan kepada semua orang yang memegang currency &#8211;uang kertas&#8211; (bukan hanya kepada satu orang seperti kasus riba pada currency emas). Ampun DJ!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelakar.web.id/2009/10/26/nilai-emas-tak-pernah-naik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Smart Card untuk Rakyat Miskin</title>
		<link>http://kelakar.web.id/2009/09/28/smart-card-untuk-rakyat-miskin/</link>
		<comments>http://kelakar.web.id/2009/09/28/smart-card-untuk-rakyat-miskin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 21:40:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Angan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelakar.web.id/2009/09/28/smart-card-untuk-rakyat-miskin/</guid>
		<description><![CDATA[Di televisi kita menyaksikan &#8211;ratusan atau bahkan ribuan&#8211; penerima BLT berdesak-desakan. Tidak sedikit di antara mereka telah berusia lanjut, dan menemui ajalnya di tengah antrean yang tidak manusiawi tersebut.
Bukan hanya itu, dana BLT yang seharusnya menjadi hak warga miskin pun tak luput dari tangan-tangan kotor oknum aparat. Dengan alasan dana keamanan, transportasi, administrasi, dan lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di televisi kita menyaksikan &#8211;ratusan atau bahkan ribuan&#8211; penerima BLT berdesak-desakan. Tidak sedikit di antara mereka telah berusia lanjut, dan menemui ajalnya di tengah antrean yang tidak manusiawi tersebut.</p>
<p>Bukan hanya itu, dana BLT yang seharusnya menjadi hak warga miskin pun tak luput dari tangan-tangan kotor oknum aparat. Dengan alasan dana keamanan, transportasi, administrasi, dan lain sebagainya, mereka memangkas uang yang sangat dibutuhkan oleh warga miskin untuk mempertahankan hidup yang jauh di bawah pas-pasan.</p>
<p>Terlepas dari pro-kontra pemberian BLT (dan apakah BLT akan diberikan lagi ke depan), dua masalah di atas sebenarnya bisa diatasi dengan mengaplikasikan TIK pada proses pendataan, pendistribusian, pengontrolan, dan evaluasi penyaluran BLT.</p>
<p>Alih-alih menerima uang tunai (yang rawan kebocoran), warga miskin akan menerima smart card yang diterbitkan oleh pemerintah (Depsos yang bekerja sama dengan Depdagri, Depkominfo, Depkeu, dan Depkes).</p>
<p>Dengan smart card tersebut, warga miskin bisa menarik uang tunai di ATM manapun di tanah air.</p>
<p>Aparat Depdagri hanyalah mendata warga miskin. Selanjutnya, Depsos bekerja sama dengan PT. Pos Indonesia secara aktif mendistribusikan smart card kepada warga yang berhak menerimanya. Laiknya surat, petugas pos akan mengantarkan smart card langsung ke rumah-rumah warga, sehingga tidak tercipta antrean seperti yang selama ini terjadi.</p>
<p>Sementara itu, sosialisasi penggunaan smart card dilakukan oleh Depsos dan Depkominfo menggunakan media yang mudah dipahami oleh warga miskin (misalnya melalui penyuluhan di balai-balai desa, ceramah oleh tokoh-tokoh agama, selain iklan di media-media massa).</p>
<p>Selain berfungsi sebagai kartu ATM bagi warga miskin, smart card tersebut juga bisa digunakan sebagai kartu Askeskin. Pasien miskin bisa menggesekkan smart card di EDC-EDC yang ada di seluruh Puskesmas, RSUD, RSUP, dan rumah sakit swasta yang ditunjuk oleh pemerintah (Depkes).</p>
<p>Sebagai prasarana penggunaan smart card ini, pemerintah harus menyediakan akses komunikasi data di setiap desa yang dapat digunakan bersama oleh Pemerintah Desa, bank, kantor pos, dan puskesmas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelakar.web.id/2009/09/28/smart-card-untuk-rakyat-miskin/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pembatasan Waktu dan Transaksi di ATM</title>
		<link>http://kelakar.web.id/2009/09/24/pembatasan-waktu-dan-transaksi-di-atm/</link>
		<comments>http://kelakar.web.id/2009/09/24/pembatasan-waktu-dan-transaksi-di-atm/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 11:44:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Angan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelakar.web.id/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dongkol waktu mengantre di ATM? Saya sering! Tidak jarang saya harus menahan emosi dalam antrean karena menunggu orang yang mentransfer gaji puluhan karyawannya di ATM.
Orang-orang seperti ini mungkin belum tahu bahwa:

Ada ATM non-tunai (meski masih jarang),
Ada internet banking yang lebih nyaman bagi dirinya sendiri dan orang lain, dan
Ada mobile banking yang lebih personal.

Bagaimana menumbuhkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah dongkol waktu mengantre di ATM? Saya sering! Tidak jarang saya harus menahan emosi dalam antrean karena menunggu orang yang mentransfer gaji puluhan karyawannya di ATM.</p>
<p>Orang-orang seperti ini mungkin belum tahu bahwa:</p>
<ol>
<li>Ada ATM non-tunai (meski masih jarang),</li>
<li>Ada internet banking yang lebih nyaman bagi dirinya sendiri dan orang lain, dan</li>
<li>Ada mobile banking yang lebih personal.</li>
</ol>
<p>Bagaimana menumbuhkan kebutuhan nasabah akan ketiga alternatif di atas? Jawabannya: <strong>batasi waktu dan transaksi di ATM!</p>
<p></strong>Bank yang peduli dengan kenyamanan sekaligus keamanan nasabahnya dalam bertransaksi via ATM bisa membatasi waktu penggunaan ATM, misalnya maksimal 5 menit. Lebih dari 5 menit, nasabah dipersilakan untuk mengambil kartu ATM-nya dan mengantre kembali.</p>
<p>Selain itu, bank juga bisa membatasi jumlah transaksi di ATM (mengecek saldo, menarik uang tunai, membayar tagihan, mentransfer, dll), misalnya maksimal tiga kali transaksi. Meski belum 5 menit, namun telah melakukan tiga kali transaksi, nasabah dipersilakan mengambil kartu ATM-nya dan mengantre kembali.</p>
<p>Dengan demikian, bank telah menjamin kenyamanan nasabah lain, sekaligus keamanan nasabah yang bersangkutan (ingat, kasus peniupuan di ATM biasanya menyasar kepada nasabah awam, dan kebanyakan mereka membutuhkan waktu di atas 5 menit di ATM).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelakar.web.id/2009/09/24/pembatasan-waktu-dan-transaksi-di-atm/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Ini, Dua Tahun yang Lalu</title>
		<link>http://kelakar.web.id/2009/09/07/hari-ini-dua-tahun-yang-lalu/</link>
		<comments>http://kelakar.web.id/2009/09/07/hari-ini-dua-tahun-yang-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 22:16:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelakar.web.id/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[Jumat 7 September 2007, atau 25 Sya&#8217;ban 1428, seminggu menjelang Ramadhan, malam hari sekitar pukul satu, istriku mengirimkan SMS yang menyebutkan bahwa dirinya bersama ibu mertuaku akan berangkat ke RSIA Hermina Pasteur.
Waktu itu aku sedang berada di Jakarta, di kamar kosku di Jl. Karbela II. Membalas SMS istriku, aku mengatakan bahwa akan pulang ke Bandung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jumat 7 September 2007, atau 25 Sya&#8217;ban 1428, seminggu menjelang Ramadhan, malam hari sekitar pukul satu, istriku mengirimkan SMS yang menyebutkan bahwa dirinya bersama ibu mertuaku akan berangkat ke RSIA Hermina Pasteur.</p>
<p>Waktu itu aku sedang berada di Jakarta, di kamar kosku di Jl. Karbela II. Membalas SMS istriku, aku mengatakan bahwa akan pulang ke Bandung pagi hari, menggunakan travel Cipaganti dari Cikini yang biasa kami tumpangi.</p>
<p>Namun rencana itu berubah ketika bapak mertuaku menjemputku di Jl. H.R. Rasuna Said, di pertigaan antara Setiabudi One dan kantor Bakrie Telekom, sekitar pukul tiga dini hari. Perjalanan dari Jakarta ke Bandung pagi itu berlangsung sangat cepat meski diliputi kecemasan. Pukul lima dini hari, kami sudah sampai di RSIA Hermina Pasteur.</p>
<p>Sesampai di sana, aku bergegas masuk ke dalam rumah sakit, naik ke lantai dua, menuju ruang bersalin. Di ruang bersalin, dan menemukan istriku sedang ditemani oleh kakak perempuan ibu mertuaku, berjuang antara hidup dan mati untuk mengantarkan anak pertama kami ke dunia.</p>
<p>Aku segera menghampiri istriku yang tengah terbaring lelah menahan perih. Dua puluh menit kemudian, tepatnya 05.24 WIB, anak pertama kami terlahir ke dunia dengan sempurna.</p>
<p>Bingung bercampur takjub, aku tidak bisa mengingat bagaimana perasaanku dan apa yang ada di pikiranku saat pertama kali melihat bayi kami diangkat oleh dokter kandungan yang menolong istriku. Aku hanya ingat bahwa aku berusaha membacakan doa yang dengan susah payah aku hapalkan beberapa minggu sebelum kelahiran anak kami: <span style="text-decoration: underline;">&#8220;U&#8217;idzuka bikalimatillahi tammati min kulli syaithon wa haammah, wa min kulli &#8216;ainil lammah.&#8221;</span></p>
<p>Hari ini, <strong>Ali Yazid Muntazhar</strong>, nama yang kami hadiahkan kepadanya, telah menginjak haulnya yang kedua. Hari ini sempurna sudah penyusuannya seperti yang difirmankan Allah SWT dalam al-Baqarah 2:233.</p>
<p>Selamat ulang tahun, Yazid. Semoga engkau tumbuh menjadi anak yang sholeh, yang taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad SAW, serta menjadi kebanggaan keluargamu di dunia, dan menjadi penyelamat kedua orang tuamu kelak di akhirat. <span style="text-decoration: underline;">&#8220;Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a&#8217;yuniw-waj&#8217;alna lil muttaqina imama. Amin ya mujibas-sailin&#8230;&#8221;</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelakar.web.id/2009/09/07/hari-ini-dua-tahun-yang-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pemilu Digital dengan Smart Card, Mungkinkah?</title>
		<link>http://kelakar.web.id/2009/09/01/pemilu-digital-dengan-smart-card-mungkinkah/</link>
		<comments>http://kelakar.web.id/2009/09/01/pemilu-digital-dengan-smart-card-mungkinkah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 21:06:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Angan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelakar.web.id/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[Hampir setiap pemilu &#8211;baik pileg, pilpres, maupun pilkada&#8211; selalu berbuntut masalah. Pihak yang kalah kerap mencari-cari celah/kekurangan pada saat sebelum (proses pendataan pemilih), ketika berlangsung (proses pencontrengan), dan sesudah (proses penghitungan suara) pemilihan.
Celah-celah di atas sebenarnya bisa diatasi dengan pengaplikasian dan pengintegrasian TIK pada semua proses bisnis pemilu, yakni dengan [1] membuat database calon pemilih, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir setiap pemilu &#8211;baik pileg, pilpres, maupun pilkada&#8211; selalu berbuntut masalah. Pihak yang kalah kerap mencari-cari celah/kekurangan pada saat sebelum (proses pendataan pemilih), ketika berlangsung (proses pencontrengan), dan sesudah (proses penghitungan suara) pemilihan.</p>
<p>Celah-celah di atas sebenarnya bisa diatasi dengan pengaplikasian dan pengintegrasian TIK pada semua proses bisnis pemilu, yakni dengan [1] membuat database calon pemilih, [2] pemberian smart card kepada calon pemilih (menggantikan kartu pemilih yang lama), [3] pemungutan suara melalui EDC (menggantikan TPS yang terbatas, rawan kecurangan, dan berbiaya tinggi), serta [4] penghitungan suara secara elektronik.</p>
<p>Berikut beberapa keuntungan pemilu dengan smart card:</p>
<p>[1] <strong>DPT yang bebas masalah</strong>. Tentu sangat mudah mengetahui adanya pemilih ganda bila daftar calon pemilih ada di dalam database server, bukan? Dengan demikian, tidak akan ada lagi kisruh DPT seperti yang selama ini terjadi. Semua pihak (peserta pemilu, pemantau, dan masyarakat umum) diperbolehkan mengakses database ini.</p>
<p>[2] <strong>Pemilih yang selalu up-to-date dan terkontrol</strong>. Kontrol terhadap calon pemilih dapat dilakukan secara terpusat (centralized). Kartu pemilih yang dilaporkan hilang, atau pemilih yang dilaporkan meninggal dunia, dapat dinonaktifkan langsung dari server pusat.</p>
<p>[3] <strong>TPS digital yang murah</strong>. Tidak perlu lagi ada TPS berbiaya tinggi seperti sekarang (bilik dan kertas suara, honor panitia, tinta, dekorasi, dll). Pemungutan suara dapat dilakukan dengan mesin EDC yang terdapat &#8211;minimal&#8211; di setiap kelurahan dan desa.</p>
<p>[4] <strong>Proses pemungutan suara yang efektif</strong>. Pemilih tidak perlu hadir dan mengantre di TPS tertentu. Sebagai solusinya, mesin EDC pemungut suara disebarkan di tempat-tempat umum (RS, terminal, bandara, pelabuhan, kantor, pusat perbelanjaan, tempat wisata, dll). Tidak perlu lagi libur khusus pada hari pemungutan suara.</p>
<p>[5] <strong>Tingkat partisipasi yang tinggi</strong>. Pemilih bisa menggesekkan kartunya di mana saja, di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri. Dengan demikian, tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu dapat ditingkatkan.</p>
<p>[6] <strong>Penghitungan suara yang real-time dan terbuka</strong>. Proses penghitungan suara dilakukan secara terpusat dan real-time. Setiap seorang pemilih menggesekkan kartunya di mesin EDC, dengan seketika datanya masuk ke dalam tabulasi suara, dan dapat langsung ditampilkan untuk publik. Lembaga-lembaga survei tidak perlu lagi menyiarkan spekulasi dan hasil quick count mereka.</p>
<p><strong>Struk sebagai bukti otentik</strong></p>
<p>Meski dilakukan secara elektronik, arsip kertas sebagai bukti otentik belum bisa ditinggalkan begitu saja. Seperti halnya pada mesin EDC dan ATM, setiap selesai bertransaksi (memberikan suara), pemilih akan mendapatkan struk/print out dengan nomor unik yang di-generated langsung dari server pusat.</p>
<p>Di atas struk ini tercetak data-data yang dibutuhkan bila nanti terjadi gugatan terhadap kejujuran pemilu digital, misalnya nama dan nomor unik pemilih, serta objek (orang atau partai) yang dipilihnya. Untuk keperluan arsip, struk bisa dicetak rangkap. Satu untuk pemilih, satu disimpan oleh KPUD atau &#8220;panitia&#8221; TPS, dan satu lagi diserahkan kepada objek terpilih. Meski demikian, semua struk tetap bersifat pribadi dan rahasia (private and confidential).</p>
<p>Bila pemilu digital ini terealisasi, Indonesia (mungkin) menjadi negara pertama di dunia yang memanfaatkan TIK sepenuhnya dalam kegiatan pemilu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelakar.web.id/2009/09/01/pemilu-digital-dengan-smart-card-mungkinkah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Merapikan Gerakan Shalat</title>
		<link>http://kelakar.web.id/2009/08/31/merapikan-gerakan-shalat/</link>
		<comments>http://kelakar.web.id/2009/08/31/merapikan-gerakan-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 05:01:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelakar.web.id/?p=330</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini aku buat setelah &#8220;dipaksa&#8221; oleh Yazid berkali-kali menonton VCD belajar shalat untuk anak-anak. Nah, barang kali ada yang ingin tahu gimana gerakan shalat yang benar seperti yang diajarkan dalam VCD itu, berikut aku sarikan:
Takbir
Berdiri menghadap kiblat (sudah pada tahu, dong&#8230;), mata menatap tempat sujud, mengangkat kedua belah tangan sejajar dengan bahu atau telinga, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini aku buat setelah &#8220;dipaksa&#8221; oleh Yazid berkali-kali menonton VCD belajar shalat untuk anak-anak. Nah, barang kali ada yang ingin tahu gimana gerakan shalat yang benar seperti yang diajarkan dalam VCD itu, berikut aku sarikan:</p>
<p><strong>Takbir</strong></p>
<blockquote><p>Berdiri menghadap kiblat (sudah pada tahu, dong&#8230;), mata menatap tempat sujud, mengangkat kedua belah tangan sejajar dengan bahu atau telinga, dengan posisi jari-jari tangan terbuka dan telapak tangan menghadap kiblat. Jari-jari tangan tidak dirapatkan dan tidak pula direnggangkan.</p></blockquote>
<p><strong>Ruku&#8217;<br />
</strong></p>
<blockquote><p>Posisi kepala tidak ditundukkan, dan mata tetap menatap tempat sujud. Kedua telapak tangan diletakkan di atas lutut dengan jari-jari terbuka.</p></blockquote>
<p><strong>I&#8217;tidal<br />
</strong></p>
<blockquote><p>Seperti biasa.</p></blockquote>
<p><strong>Sujud<br />
</strong></p>
<blockquote><p>Nah, ini yang perlu kita perhatikan. Saat sujud ada tujuh anggota badan kita yang menyentuh lantai: wajah, kedua belah telapak tangan, kedua lutut, dan kedua jari-jari kaki.</p></blockquote>
<blockquote><p>Yang dimaksud wajah adalah kening dan hidung. Keduanya harus menyentuh lantai. Jari-jari tangan dirapatkan, menghadap kiblat, dan diletakkan sejajar dengan bahu atau telinga. Posisi kedua lutut sudah jelas. Kedua jari-jari kaki ditekuk menghadap kiblat, dan kedua telapak kaki dirapatkan.</p></blockquote>
<blockquote><p>Satu lagi yang perlu kita perhatikan, saat turun sujud, kedua telapak tangan lebih dulu menyentuh lantai, kemudian barulah kedua lutut (bukan sebaliknya, lutut dulu baru tangan, atau berbarengan antara lutut dan tangan).</p></blockquote>
<p><strong>Duduk di antara dua sujud<br />
</strong></p>
<blockquote><p>Kayaknya sudah jelas ya? Pantat bertumpu pada telapak kaki kiri. Telapak kaki kanan berdiri dengan jari-jari yang sebisa mungkin ditekuk mengarah pada kiblat. Tapi kalo nggak bisa (jari-jarinya kaku, misalnya) boleh diselonjorkan ke belakang.</p>
<p>Posisi kedua telapak tangan bisa diletakkan di atas paha, atau di atas lutut seolah-olah menggenggamnya.</p></blockquote>
<p><strong>Sujud kedua<br />
</strong></p>
<blockquote><p>Sama kayak di atas (sujud pertama).</p></blockquote>
<p><strong>Berdiri dari sujud<br />
</strong></p>
<blockquote><p>Nah, ini juga perlu kita perhatikan. Setelah sujud kedua, kita nggak boleh langsung berdiri (bahasa Sundanya: <em>ngacleng</em>), tapi harus duduk dulu sebentar (seperti duduk di antara dua sujud), kemudian tangan kembali diletakkan di lantai dalam posisi mengepal (atau boleh juga terbuka), kemudian bangkit sambil membaca takbir.</p></blockquote>
<p><strong>Duduk tahyat<br />
</strong></p>
<blockquote><p>Posisinya mirip dengan duduk di antara dua sujud, tapi kaki kiri diselonjorkan hingga posisi telapak kaki berada di bawah betis kanan. Pantat menyentuh lantai, dan telapak kaki kanan dibiarkan berdiri dengan jari-jari ditekuk menghadap ke kiblat. Tapi, kalo nggak kuat (sakit, misalnya) jari-jari kaki boleh diselonjorkan ke belakang.</p></blockquote>
<blockquote><p>Trus, pada saat duduk tahyat, jari telunjuk kanan menunjuk ke arah kiblat. Tatapan mata mengarah pada telunjuk. Telunjuk boleh digerak-gerakkan, dan boleh juga tidak (atau bahasa Betawinya <em>dipantengin</em>).</p></blockquote>
<p>Nah, kira-kira begitulah gerakan shalat Nabi Muhammad SAW (menurut VCD itu). Kalo ada yang mau nambahin (dalilnya), ngoreksi, dsb, dipersilakan nulis komentar ya? (kayak ada yang mau komentar aja, hehehe).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelakar.web.id/2009/08/31/merapikan-gerakan-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kiamat 2012?</title>
		<link>http://kelakar.web.id/2009/08/17/kiamat-2012/</link>
		<comments>http://kelakar.web.id/2009/08/17/kiamat-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 02:14:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelakar.web.id/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Coba search kata kunci &#8220;Kiamat 2012&#8243; atau &#8220;Apocalypse 2012&#8243; di Google, Anda akan menemukan ribuan halaman web yang membahas, mengutip, atau sekadar menjadikan frase di atas menaikkan rating sebuah halaman web (black hat SEO).
Aku sendiri percaya (yakin sepenuhnya) bahwa kiamat akan terjadi, sebab itu merupakan bagian dari keimanan seorang muslim. Tapi kapan terjadinya sepenuhnya rahasia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Coba search kata kunci &#8220;Kiamat 2012&#8243; atau &#8220;Apocalypse 2012&#8243; di Google, Anda akan menemukan ribuan halaman web yang membahas, mengutip, atau sekadar menjadikan frase di atas menaikkan rating sebuah halaman web (black hat SEO).</p>
<p>Aku sendiri percaya (yakin sepenuhnya) bahwa kiamat akan terjadi, sebab itu merupakan bagian dari keimanan seorang muslim. Tapi kapan terjadinya sepenuhnya rahasia Allah SWT. <b>Tidak ada satu manusia pun yang tahu kapan hari itu akan terjadi</b>. Bahkan, Nabi SAW dan para malaikat pun tidak diberi tahu. Dalam al-Quran dikatakan bahwa seluruh penghuni langit dan bumi akan terkejut ketika sangkakala (pertanda hari kiamat) ditiupkan [lihat QS. an-Naml 27:87].</p>
<p>Tapi ada yang menarik dari artikel-artikel yang membahas kiamat 2012, yakni fakta-fakta astronomi dan geofisika (?) yang menunjukkan bahwa alam semesta ini (khususnya bumi dan galaksi Bima Sakti) bergerak menuju kehancuran.</p>
<p>Salah satunya adalah artikel <strong><a href="http://www.gatra.com/2009-08-15/versi_cetak.php?id=129209">&#8220;Menyingkap Kiamat 2012&#8243;</a></strong> yang dimuat majalah Gatra. Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa: &#8220;Fenomena penipisan (medan magnet bumi) itu mengundang spekulasi bertukarnya posisi kedua kutub planet bumi. Riset terhadap sampel inti es dan sedimen dari dasar laut mengindikasikan bahwa kutub magnetik pernah bertukar tempat. Terakhir kali terjadi kira-kira 780.000 tahun lalu.&#8221;</p>
<p>Mengerikan sekali membayangkan jika spekulasi pertukaran posisi kedua kutub bumi (kutub utara turun ke selatan, dan kutub selatan naik ke utara) ini benar-benar terjadi. Bumi pastilah akan berguncang dahsyat; kerak bumi terangkat; air laut naik dan tumpah ke darat; benda-benda yang ada di permukaan bumi terpental karenanya.</p>
<p><b>Bila kejadian +/- 780 ribu tahun itu berulang, matahari yang selama ini kita lihat terbit di timur, akan berpindah ke barat!</b></p>
<p>Seandainya kita masih hidup pada saat itu, tentu kita tidak akan bertanya-tanya, &#8220;Ada apa ini?&#8221; Kita tahu dengan pasti, kejadian pada hari itulah yang dinamakan kiamat!</p>
<p>Hmm&#8230; aku jadi teringat firman Allah SWT, &#8220;Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)-nya, dan manusia bertanya: &#8216;Mengapa bumi (jadi begini)?&#8217;&#8221; [TQS. al-Zalzalah 93:1-3]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelakar.web.id/2009/08/17/kiamat-2012/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pose Yasir Sebelum Mandi</title>
		<link>http://kelakar.web.id/2009/08/10/pose-yasir-sebelum-mandi/</link>
		<comments>http://kelakar.web.id/2009/08/10/pose-yasir-sebelum-mandi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 02:17:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelakar.web.id/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Yasir punya mainan baru. Kumbang mainan yang bisa berjalan sendiri. Baru beli di Toserba Griya Antapani. Diobral, cuma Rp 7500. Murah, kan?


]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yasir punya mainan baru. Kumbang mainan yang bisa berjalan sendiri. Baru beli di Toserba Griya Antapani. Diobral, cuma Rp 7500. Murah, kan?</p>
<p><img src="http://farm4.static.flickr.com/3115/3805702395_c6826d88f9.jpg" alt="kumbang, bukan laba-laba" /></p>
<p><img src="http://farm4.static.flickr.com/3513/3806521084_051b8409ba.jpg" alt="mengejar kamera" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelakar.web.id/2009/08/10/pose-yasir-sebelum-mandi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kenangan (pada) Mbah Surip</title>
		<link>http://kelakar.web.id/2009/08/06/kenangan-pada-mbah-surip/</link>
		<comments>http://kelakar.web.id/2009/08/06/kenangan-pada-mbah-surip/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 03:03:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelakar.web.id/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[Almarhum Mbah Surip nggak kenal sama aku. Aku juga nggak kenal sama beliau. Kemunculannya di media beberapa bulan belakangan (hingga beliau meninggal dunia) pun nggak sempat aku ikuti (karena aku dan Rien bersepakat untuk tidak memiliki pesawat tv di rumah kami).
Tapi aku kenal dengan lagu-lagu Mbah Surip. &#8220;Bangun Tidur&#8221;, &#8220;Tak Gendong&#8221;, &#8220;Tukang Nasi Goreng&#8221;, &#8220;Turunnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Almarhum Mbah Surip nggak kenal sama aku. Aku juga nggak kenal sama beliau. Kemunculannya di media beberapa bulan belakangan (hingga beliau meninggal dunia) pun nggak sempat aku ikuti (karena aku dan Rien bersepakat untuk tidak memiliki pesawat tv di rumah kami).</p>
<p>Tapi aku kenal dengan lagu-lagu Mbah Surip. &#8220;Bangun Tidur&#8221;, &#8220;Tak Gendong&#8221;, &#8220;Tukang Nasi Goreng&#8221;, &#8220;Turunnya Harga Minyak Angin&#8221;, dan yang paling fenomenal (menurutku) &#8220;Saling Memandang&#8221; adalah beberapa lagu yang aku dengar langsung dari mulut penyanyi nyleneh ini pada awal 2006 silam, semasa aku dan Rien masih kos di bilangan Kramat, Jakarta Pusat.</p>
<p>Mulanya aku cuma ingin mengajak Rien mencari hiburan murah (gratis malah) di sekitar kos kami. Malam hari, selepas shalat Maghrib dan makan malam di warung pinggir jalan, aku dan Rien menyusuri Jl. Kramat IV ke Jl. Kalipasir, menerobos gang-gang kecil, hingga keluar persis di samping TIM. Di sana kami membaca pamflet acara Kenduri Cinta bertema &#8220;Ada Apa Pluralisme, Apa Ada Pluralisme?&#8221; yang akan menampilkan Cak Nun dan Jose Rizal Manua.</p>
<p>Beberapa malam kemudian, kami kembali ke TIM untuk menyaksikan acara yang diisi kedua tokoh (maklum, selama ini kami cuma mengenal nama mereka dari media cetak dan tv). Namun, penyair Jose Rizal Manua tidak tampak malam itu. Sebagai penggantinya, naiklah sosok laki-laki berperawakan kecil, agak tua, dengan rambut gimbalnya ke atas panggung untuk menghibur penonton (yang dipanggil &#8220;jama&#8217;ah&#8221; oleh panitia acara) dengan lagu-lagunya yang musik-dan-liriknya-benar-benar-di-luar-kebiasaan. Dialah Mbah Surip.</p>
<p>Jama&#8217;ah tergelak, kami pun ikut terbahak. Lagu-lagu yang dibawakan Mbah Surip sangat menghibur dan menghilangkan kantuk kami yang kedinginan selepas hujan mengguyur Jakarta petang itu. Syair-syairnya susah ditebak, yang menurutku menunjukkan kecerdasan penggubahnya &#8211;Mbah Surip.</p>
<p>Mbah Surip juga &#8216;artis&#8217; yang melawan arus. Suatu kali Mbah Surip ditanya oleh Mbak Bertha, &#8220;Mbah, jujur ya? Sebenernya umur Mbah Surip itu berapa sih?&#8221; Berbeda dengan kebanyakan pesohor yang mengaku lebih muda dari usia sebenarnya, Mbah Surip justru menuakan umurnya. Dengan gayanya yang khas, Mbah Surip menjawab, &#8220;Enam puluh, hahaha&#8230;&#8221;</p>
<p>Itulah sosok Mbah Surip. Kehadirannya dinantikan oleh (kebanyakan) jama&#8217;ah Kenduri Cinta.</p>
<p>Bulan-bulan berikutnya kami selalu berusaha hadir ke acara Kenduri Cinta. Bukan untuk melihat Cak Nun atau tokoh-tokoh (biasanya seniman dan politikus) yang menjadi bintang tamu, melainkan untuk mendengarkan lagu dan menyaksikan canda Mbah Surip dengan tawa khasnya itu.</p>
<p>Kebiasaan ini berlangsung sampai kami pindah kos di kawasan Cikini hingga awal 2007. Sejak saat itu kami tidak lagi menghadiri acara ini karena Rien &#8216;harus&#8217; pindah ke Bandung untuk beristirahat dan mempersiapkan kelahiran putra pertama kami.</p>
<p>Setelah Mbah Surip terkenal dan mengisi acara-acara di tv, kami berencana untuk bernostalgia ke TIM, mengajak dua putra kami (Yazid dan Yasir) ke acara Kenduri Cinta. Lagi-lagi bukan untuk melihat Cak Nun dan tokoh-tokoh politik dan para senimannya itu, melainkan untuk mendengarkan dendang dari sang bintang tamu sesungguhnya: Mbah Surip.</p>
<p>Namun rencana kami tinggallah rencana. Tuhan memiliki rencana lain. Dia telah memanggil Mbah Surip mendahului kita semua. Selamat jalan Mbah. Semoga Allah SWT menerima semua amal soleh Mbah, dan mengampuni segala kesalahan Mbah. We love you full&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelakar.web.id/2009/08/06/kenangan-pada-mbah-surip/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
