Pemilu Digital dengan Smart Card, Mungkinkah?

Hampir setiap pemilu –baik pileg, pilpres, maupun pilkada– selalu berbuntut masalah. Pihak yang kalah kerap mencari-cari celah/kekurangan pada saat sebelum (proses pendataan pemilih), ketika berlangsung (proses pencontrengan), dan sesudah (proses penghitungan suara) pemilihan.

Celah-celah di atas sebenarnya bisa diatasi dengan pengaplikasian dan pengintegrasian TIK pada semua proses bisnis pemilu, yakni dengan [1] membuat database calon pemilih, [2] pemberian smart card kepada calon pemilih (menggantikan kartu pemilih yang lama), [3] pemungutan suara melalui EDC (menggantikan TPS yang terbatas, rawan kecurangan, dan berbiaya tinggi), serta [4] penghitungan suara secara elektronik.

Berikut beberapa keuntungan pemilu dengan smart card:

[1] DPT yang bebas masalah. Tentu sangat mudah mengetahui adanya pemilih ganda bila daftar calon pemilih ada di dalam database server, bukan? Dengan demikian, tidak akan ada lagi kisruh DPT seperti yang selama ini terjadi. Semua pihak (peserta pemilu, pemantau, dan masyarakat umum) diperbolehkan mengakses database ini.

[2] Pemilih yang selalu up-to-date dan terkontrol. Kontrol terhadap calon pemilih dapat dilakukan secara terpusat (centralized). Kartu pemilih yang dilaporkan hilang, atau pemilih yang dilaporkan meninggal dunia, dapat dinonaktifkan langsung dari server pusat.

[3] TPS digital yang murah. Tidak perlu lagi ada TPS berbiaya tinggi seperti sekarang (bilik dan kertas suara, honor panitia, tinta, dekorasi, dll). Pemungutan suara dapat dilakukan dengan mesin EDC yang terdapat –minimal– di setiap kelurahan dan desa.

[4] Proses pemungutan suara yang efektif. Pemilih tidak perlu hadir dan mengantre di TPS tertentu. Sebagai solusinya, mesin EDC pemungut suara disebarkan di tempat-tempat umum (RS, terminal, bandara, pelabuhan, kantor, pusat perbelanjaan, tempat wisata, dll). Tidak perlu lagi libur khusus pada hari pemungutan suara.

[5] Tingkat partisipasi yang tinggi. Pemilih bisa menggesekkan kartunya di mana saja, di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri. Dengan demikian, tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu dapat ditingkatkan.

[6] Penghitungan suara yang real-time dan terbuka. Proses penghitungan suara dilakukan secara terpusat dan real-time. Setiap seorang pemilih menggesekkan kartunya di mesin EDC, dengan seketika datanya masuk ke dalam tabulasi suara, dan dapat langsung ditampilkan untuk publik. Lembaga-lembaga survei tidak perlu lagi menyiarkan spekulasi dan hasil quick count mereka.

Struk sebagai bukti otentik

Meski dilakukan secara elektronik, arsip kertas sebagai bukti otentik belum bisa ditinggalkan begitu saja. Seperti halnya pada mesin EDC dan ATM, setiap selesai bertransaksi (memberikan suara), pemilih akan mendapatkan struk/print out dengan nomor unik yang di-generated langsung dari server pusat.

Di atas struk ini tercetak data-data yang dibutuhkan bila nanti terjadi gugatan terhadap kejujuran pemilu digital, misalnya nama dan nomor unik pemilih, serta objek (orang atau partai) yang dipilihnya. Untuk keperluan arsip, struk bisa dicetak rangkap. Satu untuk pemilih, satu disimpan oleh KPUD atau “panitia” TPS, dan satu lagi diserahkan kepada objek terpilih. Meski demikian, semua struk tetap bersifat pribadi dan rahasia (private and confidential).

Bila pemilu digital ini terealisasi, Indonesia (mungkin) menjadi negara pertama di dunia yang memanfaatkan TIK sepenuhnya dalam kegiatan pemilu.

Kategori: Angan | Beri tanggapan

Merapikan Gerakan Shalat

Tulisan ini aku buat setelah “dipaksa” oleh Yazid berkali-kali menonton VCD belajar shalat untuk anak-anak. Nah, barang kali ada yang ingin tahu gimana gerakan shalat yang benar seperti yang diajarkan dalam VCD itu, berikut aku sarikan:

Takbir

Berdiri menghadap kiblat (sudah pada tahu, dong…), mata menatap tempat sujud, mengangkat kedua belah tangan sejajar dengan bahu atau telinga, dengan posisi jari-jari tangan terbuka dan telapak tangan menghadap kiblat. Jari-jari tangan tidak dirapatkan dan tidak pula direnggangkan.

Ruku’

Posisi kepala tidak ditundukkan, dan mata tetap menatap tempat sujud. Kedua telapak tangan diletakkan di atas lutut dengan jari-jari terbuka.

I’tidal

Seperti biasa.

Sujud

Nah, ini yang perlu kita perhatikan. Saat sujud ada tujuh anggota badan kita yang menyentuh lantai: wajah, kedua belah telapak tangan, kedua lutut, dan kedua jari-jari kaki.

Yang dimaksud wajah adalah kening dan hidung. Keduanya harus menyentuh lantai. Jari-jari tangan dirapatkan, menghadap kiblat, dan diletakkan sejajar dengan bahu atau telinga. Posisi kedua lutut sudah jelas. Kedua jari-jari kaki ditekuk menghadap kiblat, dan kedua telapak kaki dirapatkan.

Satu lagi yang perlu kita perhatikan, saat turun sujud, kedua telapak tangan lebih dulu menyentuh lantai, kemudian barulah kedua lutut (bukan sebaliknya, lutut dulu baru tangan, atau berbarengan antara lutut dan tangan).

Duduk di antara dua sujud

Kayaknya sudah jelas ya? Pantat bertumpu pada telapak kaki kiri. Telapak kaki kanan berdiri dengan jari-jari yang sebisa mungkin ditekuk mengarah pada kiblat. Tapi kalo nggak bisa (jari-jarinya kaku, misalnya) boleh diselonjorkan ke belakang.

Posisi kedua telapak tangan bisa diletakkan di atas paha, atau di atas lutut seolah-olah menggenggamnya.

Sujud kedua

Sama kayak di atas (sujud pertama).

Berdiri dari sujud

Nah, ini juga perlu kita perhatikan. Setelah sujud kedua, kita nggak boleh langsung berdiri (bahasa Sundanya: ngacleng), tapi harus duduk dulu sebentar (seperti duduk di antara dua sujud), kemudian tangan kembali diletakkan di lantai dalam posisi mengepal (atau boleh juga terbuka), kemudian bangkit sambil membaca takbir.

Duduk tahyat

Posisinya mirip dengan duduk di antara dua sujud, tapi kaki kiri diselonjorkan hingga posisi telapak kaki berada di bawah betis kanan. Pantat menyentuh lantai, dan telapak kaki kanan dibiarkan berdiri dengan jari-jari ditekuk menghadap ke kiblat. Tapi, kalo nggak kuat (sakit, misalnya) jari-jari kaki boleh diselonjorkan ke belakang.

Trus, pada saat duduk tahyat, jari telunjuk kanan menunjuk ke arah kiblat. Tatapan mata mengarah pada telunjuk. Telunjuk boleh digerak-gerakkan, dan boleh juga tidak (atau bahasa Betawinya dipantengin).

Nah, kira-kira begitulah gerakan shalat Nabi Muhammad SAW (menurut VCD itu). Kalo ada yang mau nambahin (dalilnya), ngoreksi, dsb, dipersilakan nulis komentar ya? (kayak ada yang mau komentar aja, hehehe).

Kategori: Pengalaman | Beri tanggapan

Kiamat 2012?

Coba search kata kunci “Kiamat 2012″ atau “Apocalypse 2012″ di Google, Anda akan menemukan ribuan halaman web yang membahas, mengutip, atau sekadar menjadikan frase di atas menaikkan rating sebuah halaman web (black hat SEO).

Aku sendiri percaya (yakin sepenuhnya) bahwa kiamat akan terjadi, sebab itu merupakan bagian dari keimanan seorang muslim. Tapi kapan terjadinya sepenuhnya rahasia Allah SWT. Tidak ada satu manusia pun yang tahu kapan hari itu akan terjadi. Bahkan, Nabi SAW dan para malaikat pun tidak diberi tahu. Dalam al-Quran dikatakan bahwa seluruh penghuni langit dan bumi akan terkejut ketika sangkakala (pertanda hari kiamat) ditiupkan [lihat QS. an-Naml 27:87].

Tapi ada yang menarik dari artikel-artikel yang membahas kiamat 2012, yakni fakta-fakta astronomi dan geofisika (?) yang menunjukkan bahwa alam semesta ini (khususnya bumi dan galaksi Bima Sakti) bergerak menuju kehancuran.

Salah satunya adalah artikel “Menyingkap Kiamat 2012″ yang dimuat majalah Gatra. Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa: “Fenomena penipisan (medan magnet bumi) itu mengundang spekulasi bertukarnya posisi kedua kutub planet bumi. Riset terhadap sampel inti es dan sedimen dari dasar laut mengindikasikan bahwa kutub magnetik pernah bertukar tempat. Terakhir kali terjadi kira-kira 780.000 tahun lalu.”

Mengerikan sekali membayangkan jika spekulasi pertukaran posisi kedua kutub bumi (kutub utara turun ke selatan, dan kutub selatan naik ke utara) ini benar-benar terjadi. Bumi pastilah akan berguncang dahsyat; kerak bumi terangkat; air laut naik dan tumpah ke darat; benda-benda yang ada di permukaan bumi terpental karenanya.

Bila kejadian +/- 780 ribu tahun itu berulang, matahari yang selama ini kita lihat terbit di timur, akan berpindah ke barat!

Seandainya kita masih hidup pada saat itu, tentu kita tidak akan bertanya-tanya, “Ada apa ini?” Kita tahu dengan pasti, kejadian pada hari itulah yang dinamakan kiamat!

Hmm… aku jadi teringat firman Allah SWT, “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)-nya, dan manusia bertanya: ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’” [TQS. al-Zalzalah 93:1-3]

Kategori: Renungan | Beri tanggapan

Pose Yasir Sebelum Mandi

Yasir punya mainan baru. Kumbang mainan yang bisa berjalan sendiri. Baru beli di Toserba Griya Antapani. Diobral, cuma Rp 7500. Murah, kan?

kumbang, bukan laba-laba

mengejar kamera

Kategori: Celoteh | Beri tanggapan

Kenangan (pada) Mbah Surip

Almarhum Mbah Surip nggak kenal sama aku. Aku juga nggak kenal sama beliau. Kemunculannya di media beberapa bulan belakangan (hingga beliau meninggal dunia) pun nggak sempat aku ikuti (karena aku dan Rien bersepakat untuk tidak memiliki pesawat tv di rumah kami).

Tapi aku kenal dengan lagu-lagu Mbah Surip. “Bangun Tidur”, “Tak Gendong”, “Tukang Nasi Goreng”, “Turunnya Harga Minyak Angin”, dan yang paling fenomenal (menurutku) “Saling Memandang” adalah beberapa lagu yang aku dengar langsung dari mulut penyanyi nyleneh ini pada awal 2006 silam, semasa aku dan Rien masih kos di bilangan Kramat, Jakarta Pusat.

Mulanya aku cuma ingin mengajak Rien mencari hiburan murah (gratis malah) di sekitar kos kami. Malam hari, selepas shalat Maghrib dan makan malam di warung pinggir jalan, aku dan Rien menyusuri Jl. Kramat IV ke Jl. Kalipasir, menerobos gang-gang kecil, hingga keluar persis di samping TIM. Di sana kami membaca pamflet acara Kenduri Cinta bertema “Ada Apa Pluralisme, Apa Ada Pluralisme?” yang akan menampilkan Cak Nun dan Jose Rizal Manua.

Beberapa malam kemudian, kami kembali ke TIM untuk menyaksikan acara yang diisi kedua tokoh (maklum, selama ini kami cuma mengenal nama mereka dari media cetak dan tv). Namun, penyair Jose Rizal Manua tidak tampak malam itu. Sebagai penggantinya, naiklah sosok laki-laki berperawakan kecil, agak tua, dengan rambut gimbalnya ke atas panggung untuk menghibur penonton (yang dipanggil “jama’ah” oleh panitia acara) dengan lagu-lagunya yang musik-dan-liriknya-benar-benar-di-luar-kebiasaan. Dialah Mbah Surip.

Jama’ah tergelak, kami pun ikut terbahak. Lagu-lagu yang dibawakan Mbah Surip sangat menghibur dan menghilangkan kantuk kami yang kedinginan selepas hujan mengguyur Jakarta petang itu. Syair-syairnya susah ditebak, yang menurutku menunjukkan kecerdasan penggubahnya –Mbah Surip.

Mbah Surip juga ‘artis’ yang melawan arus. Suatu kali Mbah Surip ditanya oleh Mbak Bertha, “Mbah, jujur ya? Sebenernya umur Mbah Surip itu berapa sih?” Berbeda dengan kebanyakan pesohor yang mengaku lebih muda dari usia sebenarnya, Mbah Surip justru menuakan umurnya. Dengan gayanya yang khas, Mbah Surip menjawab, “Enam puluh, hahaha…”

Itulah sosok Mbah Surip. Kehadirannya dinantikan oleh (kebanyakan) jama’ah Kenduri Cinta.

Bulan-bulan berikutnya kami selalu berusaha hadir ke acara Kenduri Cinta. Bukan untuk melihat Cak Nun atau tokoh-tokoh (biasanya seniman dan politikus) yang menjadi bintang tamu, melainkan untuk mendengarkan lagu dan menyaksikan canda Mbah Surip dengan tawa khasnya itu.

Kebiasaan ini berlangsung sampai kami pindah kos di kawasan Cikini hingga awal 2007. Sejak saat itu kami tidak lagi menghadiri acara ini karena Rien ‘harus’ pindah ke Bandung untuk beristirahat dan mempersiapkan kelahiran putra pertama kami.

Setelah Mbah Surip terkenal dan mengisi acara-acara di tv, kami berencana untuk bernostalgia ke TIM, mengajak dua putra kami (Yazid dan Yasir) ke acara Kenduri Cinta. Lagi-lagi bukan untuk melihat Cak Nun dan tokoh-tokoh politik dan para senimannya itu, melainkan untuk mendengarkan dendang dari sang bintang tamu sesungguhnya: Mbah Surip.

Namun rencana kami tinggallah rencana. Tuhan memiliki rencana lain. Dia telah memanggil Mbah Surip mendahului kita semua. Selamat jalan Mbah. Semoga Allah SWT menerima semua amal soleh Mbah, dan mengampuni segala kesalahan Mbah. We love you full…

Kategori: Celoteh | Beri tanggapan